Sesungguhnya
perempuan diciptakan dari tulang yang bengkok
dari seorang laki-laki
yang memilikinya secara nyata
Laki-laki inilah yang kelak
yang harus membantunya
untuk meluruskannya
dengan kelembutan
Karena tulang yang bengkok itu
akan tetap bengkok bila terus dibiarkan
tapi juga akan patah
bila diluruskan secara patah
Sesungguhnya perempuan diciptakan
dari bagian laki-laki itu sendiri
dari tulangnya sendiri
agar dia merasa nyaman
Dan perempuan bagaimanapun
telah diciptakan dari sesuatu yg tidak sempurna
tidak lurus
karna itu bagaimana mungkin perempuan
dituntut untuk menjadi sempurna
Dan oleh karena itu
bagaimana mungkin seorang perempuan
menggantungkan hidupnya pada laki-laki
yang tidak 'lurus' juga?!
Karya: Gadis
Jumat, 26 Februari 2010
Doa Gadis 3
Doa Gadis 2
Jangan pernah berubah
meski hembusan angin
telah berbalik arah
Jangan pernah meredup
meski bulan, bintang bahkan matahari
tertutup kabut
Untaian doa dan pengharapan ini
masih selalu
hanya untukmu
Berbalut kepasrahan
yang bertaut dengan keikhlasan
dari nurani yang terdalam akan takdirku
Demi melihatmu tetap benderang
dari tempatku yang kian temaram
bahkan nyaris padam
Karya: Gadis
Doa Gadis
Seandainya masih ada harapan
sekecil apapun itu
untuk mengubah kenyataan ini
aku bersedia menggantungkan seluruh hidupku
pada harapan itu
demi aku dapat terus bersamanya
Seandainya para malaikat
mengizinkan doa-doa yang kupanjatkan
yang jumlahnya sebanyak bintang diangkasa
untuk melintasi langit ketujuh
lalu membirkannya melewati pintu surga
agar dapat sampai pada-Nya
Aku bersimpuh berserta selaksa doa-doa
dibawah panji kebesaran-Nya
untuk memohon;
"Hidupkanlah dia lagi
berilah separuh umurku untuknya
Izinkan aku mencintainya sekali lagi
aku berjanji akan mencintainya dengan lebih sempurna
meski dia tak bernafas untuk bersamaku"
Karya: Gadis
Minggu, 30 Agustus 2009
Tiga Hati Tiga Cinta
Suatu senja di Sampan café
Dua orang perempuan berusia sekitar pertengahan dua puluhan tengah duduk saling berhadapan sambil menikmati segelas minuman dingin, Lady Pink, yang masing-masing tinggal setengah isinya. Dilihat dari pakaian yang mereka kenakan, bisa ditebak kalau mereka pekerja kantoran yang memanfaatkan after five-nya di café dengan pemandangan laut di hadapannya ini. Sebuah café dengan live musik.
“Jadi, gimana awalnya kamu bisa kenalan dengan cowok, yang kamu bilang, cinta terakhir kamu itu?” tanya Clara sambil memainkan rambut panjangnya yang oleh salon telah dibuat sedemikian rupa, dari lurus menjadi ikal bergelombang. Sangat pas dengan bentuk wajahnya yang kecil dengan dagu yang lancip. Manis, seperti itulah orang-orang kebanyakan menilainya. Dia dan sahabatnya sengaja keluar untuk membahas cowok baru yang ditaksir Sophie, sahabat Clara yang sedang duduk dihadapannya dengan wajah yang sumringah.
“Entah kenapa aku yakin banget kalau dialah orang yang aku cari-cari selama ini. Aku kenal dia di tempat fitness, gak sengaja sih, aku ngejatuhin barbel 4kg di kakinya. He..he..he..!” Sophie nyengir memamerkan deretan giginya yang rapi. Sophie memang sangat cantik, dengan body yang aduhai. Wajar sih, dia rajin fitness dan menjaga ketat apa-apa yang akan masuk ke dalam mulutnya. Rambutnya yang hanya sebatas bahu, bergoyang-goyang pelan saat dia tertawa
“Apaaa?! Gila, sumpah gila banget. Kok bisa sih?” tanya Clara tak habis pikir
“Instruktur aku kan nyuruh aku latihan angkat barbel, ya aku angkatlah. Tapi sambil melamun, tetep! Nah, lagi enak-enak angkat barbel yang sumpah, judulnya aja cuma 4kg, tapi sumpah ternyata kok jadinya berat banget ya. Tiba-tiba tu cowok yang gak tau sejak kapan udah berdiri di sebelah aku, langsung ngajak ngomong aku, entah ngomongin apa, aku nggak nyimak, tanpa ada pendahuluan atau kata pengantar. Aku otomatis kaget dong, ya udah, lepas deh tu barbel yang memang udah dari tadi mau lepas dari tangan aku karena keringat plus berat juga. Dasarnya barbelnya yang kurang ajar, dia jatuhnya di kaki cowok itu, ya selamat dech. Bukan salah aku kan, salah barbelnya”
“Terus?” kejar Clara penasaran
“Ya klise sih, aku minta maaf, trus kenalan, trus sekarang aku naksir dia” kata Sophie datar, tanpa beban
“Secepat itu?!” tanya Clara
“Entah lah, tapi kayaknya sih gitu”
“Udah seberapa dekat kalian?”
“Kayak abg yang lagi Pdkt, lagi kasmaran, cukup dekat. Telphon-telphonan, smsan. ” Sophie terkekeh lagi, Clara ikut tertawa
“Semoga kali ini bisa berjalan sebagaimana mestinya dan berlanjut jadi happy ending story ya, not sad ending story again”
“Sumpah kali ini aku bener-bener pengen serius. Makanya bantuin dong! Aku kok ngerasainnya dia cuma anggap aku temen ya, padahal aku udah kasih perhatian lebih dan sinyal-sinyal kalau aku naksir dia dan kali ini aku bener-bener serius” kata Sophie dengan mimik serius yang jadi keliahatan lucu.
Clara sebagai sahabat baik Sophie, juga hampir semua yang mengenal Sophie tau, bahwa apa yang tertulis di facebook Sophie selama hampir 5 tahun ini benar-benar dilakukannya. Satu hati telah menghancurkan aku, ribuan hati akan aku hancurkan untuk membalasnya. Begitulah Sophie. Pengkhianatan yang pernah diterimanya dijadikan alasan untuk menyakiti semua pria yang jatuh hati padanya. Dengan fisik yang bila di beri nilai, pastilah mendapatkan nilai 8,5, karir yang baik sebagai staff keuangan di perusahaan yang sedang berkembang di kota kecil mereka ini, juga sifatnya yang sangat friendly, siapapun akan dengan sangat mudah jatuh hati pada Sophie. Aku menolak melibatkan hati dalam hal apapun. Itu adalah kalimat lain yang juga tertuang dalam facebooknya yang juga selalu ditepatinya
Walaupun pria-pria yang mendekati Sophie tau akan 2 kalimat sakti yang ada di facebooknya itu selalu ditepati Sophie, tapi selalu ada saja yang bersedia mempertaruhkan hatinya untuk diremuk-remukkan oleh Sophie tanpa perasaan. Bukan salah Sophie juga sih, karena dari awal dia memang sudah menekankan kalau dia menolak melibatkan hati dalam hal apapun. Dan sekarang, kemanapun Sophie pergi, dia bisa menemukan ceceran mantan-mantan kekasihnya dengan mudah.
“Kita udah nggak muda lagi. Apapun pasti aku lakukan untuk membantu, sepanjang yang aku bisa” janji Clara
“Tapi dia bilang dia udah punya tunangan” kata Sophie lagi, ada nada sendu dalam ucapannya
“Baru tunangan kan, orang meried aja bisa cerai, apa lagi baru tunangan. Selama janur kuning belum melambai, masih ada harapan, semangat dong!” kata Clara mencoba menghibur, tepat sedetik sebelum Hpnya menjerit.
Sophie meminum habis Lady Pink-nya, minuman favorit mereka berdua, saat Clara sedang menjelaskan, pada seseorang yang Sophie tak tau siapa, dimana posisinya berada saat ini
“Ternyata Sampan Café ngetop juga ya” kata Clara begitu Hpnya dimatikan
“Kenapa?”
“Temanku minta ketemuan, aku bilang lagi disini, ternyata dia tau tempat ini dan dia bilang mau langsung kesini sekarang, karena dia juga lagi disekitar sini” terang Clara
“Cowok?!” tebak Sophie, Clara hanya mengangguk
“Hmm, jangan bilang kalau itu cowok yang ibu mu jodoh-jodohin sama kamu itu, yang sekarang ini udah jadi tunangan kamu, Cla?!”
“Sayangnya, iya” kata Clara sambil mengangkat bahunya dengan sikap acuh
“Aku masih marah nih karena kamu nggak ngundang aku di acara tunangan kamu kemarin, kamu juga belum pernah ngenalin dia ke aku. Bahkan namanya aja kamu belum kasih tau”
“Maaf ya, kemarin itu cuma acara dua keluarga aja, cuma kecil-kecilan. Lagian sebentar lagikan dia kesini, sekalian aja aku kenalin dia sama kamu”
“Aneh ya, jaman udah semodern ini, masih juga ada orangtua yang menjodoh-jodohkan anaknya” kata Sophie seperti untuk dirinya sendiri
“Aku juga sih yang salah. Aku yang nggak bisa bilang nggak sama ibu ku. Lagian cowok itu anehnya kok bisa sayang banget sama aku, dia sepertinya benar-benar mencintai aku dengan tulus. Padahal kami dijodohkan. Yang lebih anehnya lagi, kalau dia bisa bersikap seperti itu, kenapa aku tidak. Aku memang lemah”
“Ya, kamu terlalu lemah da…. Ya Ampun, Cla…!!!” teriak Sophie dengan suara tertahan, tiba-tiba mengejutkan Clara
“Ada apa?”
“Kamu jangan langsung noleh ke belakang ya. Karena dibelakang kamu sekarang ini, cowok yang aku ceritain tadi, lagi jalan ke arah kita. Ya ampun Cla, kamu liat sendiri deh senyumnya nanti, senyum yang aku bilang bisa lumerin hati aku itu ” kata Sophie nyaris berbisik dengan bibir yang juga nyaris tak bergerak. Matanya menatap kearah belakang Clara meskipun sedang berbicara dengan Clara, senyum tak lepas dari bibir Sophie. Clara tersenyum saat menangkap rona merah jambu tiba-tiba hadir dikedua pipi Sophie. Sahabat mana yang tak ikut bahagia bila sahabatnya sedang berbagia.
“Hai, gak nyangka ketemu kamu disini” kata Sophie saat sosok tadi sudah berada di samping Clara. Clara sama sekali tak menoleh untuk melihat cowok yang ditaksir Sophie itu, karena kan belum dikenalkan. Clara sengaja mengikuti jejak Sophie yang meneguk habis Lady Pink-nya, supaya tak mati gaya selagi Sophie beramah tamah dengan…ah, ternyata Sophie juga belum menyebutkan nama cowok yang ditaksirnya sepanjang dia bercerita tadi. Mereka kan jadi impas sekarang, pikir Clara
“Asyik ya, after five bisa hang out kayak kalian gini” kata cowok itu membuat Clara tersentak, dia merasa mengenali suara itu, dia mencoba untuk menoleh, tapi diurungkannya karena cowok itu berdiri tepat di belakangnya. Sangat kentara kalau Clara menoleh saat ini.
“He-eh! Oh iya, hampir lupa. Kenalin ini Clara, sahabat baik aku” kata Sophie lagi
“He-eh, juga! Kamu becanda ya, Phie?!” kata Nusa, cowok yang sekarang sedang melingkarkan lengannya dengan mesra ke pundak Clara, dengan setengah membungkuk, karena Clara dalam posisi duduk. Clara langsung menoleh dengan cepat. Seketika itu juga wajah Clara memucat
“Kamu kenal Clara…??!” Sophie terlihat sangat bingung. Sophie menatap berganti-gantian antara Clara dan Nusa, menuntut penjelasan, segera!
“Tentu aja aku kenal Clara, Phie. Dia kan tunangan aku yang tercinta” kata Nusa sambil mengecup pelan pipi Clara yang memucat, nyaris akan pingsan. Sementara itu Sophie hanya bisa mematung dengan mata yang kini dipenuhi air mata sambil memandang Clara yang tak tau harus berbuat apa.
Karya Vera Threescha
Kamis, 08 Januari 2009
Ketika Tuhan Berkata Tidak

Apa yang kamu rasakan ketika kamu tau kalau kamu bukanlah anak kandung dalam keluargamu? Sedih. Sudah pasti! Begitupun yang dialami oleh Alif Fathya Kautsar saat tau dirinya bukanlah anak kandung dalam keluarganya. Berdoa supaya segera menemukan keluarga kandungnya adalah satu-satunya sumber kekuatan bagi Alif. Tapi bagaimana kalau doa Alif dijawab dengan kata ‘tidak’ oleh Tuhan?!
Lalu apakah yang kamu lakukan setelah kamu mencintai seseorang dengan begitu dalam, dan pada akhirnya kamu tau kalau dia adalah saudaramu sendiri?! Berharap semoga fakta itu keliru adalah pengaharapan terakhir bagi Iqbal. Tapi berkenankah Tuhan menjawab ‘ya’ untuk itu?!
Lantas apa yang kamu perbuat seandainya kamu adalah Zahra, saat kamu yang selama ini berada dalam jalur yang lurus dan bersih, tapi pada akhirnya diketahui mengidap HIV AIDS?! Berpalingkah kamu dari jalan kebenaran?! Dan kali ini maukah Tuhan mengabulkan pengharapanmu yang terakhir? Bagaimana kalau kali ini Dia berkata ‘tidak’?!
Dan yang terakhir, bagaimana kamu menyikapi kehancuran rumah tangga orangtuamu seandainya kamu menjadi Dian? Satu-satunya yang berharga dalam hidupmu. Lalu ketika kamu berfikir kalau semuanya telah usai, seseorang datang menawarkan sebuah janji yang indah. Tapi bagaimana kalau ternyata kamu sudah tak pantas lagi mendapatkan mimpi itu?! Maukah Tuhan menolongmu kali ini setelah ribuan doamu selalu dijawab-Nya dengan ‘tidak’?! Bagaimana kalau kali ini Tuhan lagi-lagi berkata ‘tidak’ untuk doamu?
Ketika Tuhan Berkata Tidak adalah novel yang mengangkat cerita tentang keluarga yang dalam istilahnya broken home. Juga mengenai anak yang mencari keberadaan orangtua kandungnya setelah berpuluh-puluh tahun lamanya dia mengira kalau dirinya adalah anak kandung dalam keluarganya, bukan anak hasil adopsi dari sebuah panti asuhan, dimana panti asuhan itupun tak mngetahui lagi keberadaan orangtua kandungnya.
Novel ini juga mengangkat tentang bahayanya pergaulan tanpa memilih-milih teman yang pada akhirnya menjerumuskan tokoh ceritanya dalam bahaya narkoba. Keputus asaan akhirnya menuntun Dian menuju obat-obatan terlarang yang pada akhirnya menjebaknya dalam kubangan HIV AIDS yang mematikan yang menyeret orang-orang tak berdosa disekelilingnya termasuk juga cintanya yang laksana mimpi. Novel yang mengisahkan pergulatan bathin para tokohnya dalam menghadapi ragam polemik kehidupan, masalah-masalah yang tiada berkesudahan dan nyaris tak sanggup untuk tanggung, dan ketika Tuhan lagi-lagi berkata ‘tidak’ untuk doa-doa mereka.
Novel sepanjang 160 halaman ini baru saja dikembalikan dari penerbit Gramedia Pustaka Utama-Jakarta dan sedang dalam proses revisi (perbaikan) untuk kemudian dikirimkan kembali ke Gramedia Pustaka Utama-Jakarta.
Bagi yang ingin membaca novel ini secara lengkap dapat mengirimkan email ke penulis di syiffa_azzahra@yahoo.com
Karya :Vera Threescha
Sahabat Terakhir

Sahabat Terakhir adalah sebuah novel dengan tema remaja, sepanjang 235 halaman. Mengangkat cerita tentang persahabatan tujuh orang siswa-siswi kelas III di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang terdiri dari; Biru, Ilalang, Aira, Anita, Lieza, Reina dan Cristal. Pada mulanya persahabatan mereka berjalan mulus seperti layaknya persahabatan remaja masa kini.
Masalah mulai muncul ketika mendekati acara Prom Night, saat terkuaknya sebuah cinta segitiga antara Cristal-Biru-Anita. Didetik-detik terakhir, hanya Biru dan Cristal (tokoh utama cerita) yang menyadari hadirnya cinta segitiga dalam persahabatan mereka. Pengorbanan seorang sahabat sejatipun dituntut dari Cristal dan Biru yang pada akhirnya lebih memilih mengorbankan perasaan masing-masing demi tetap utuhnya persahabatan antara mereka bertujuh.
Setelah acara Prom Night, sekolah mereka mengadakan acara rekreasi ke Gunung Bintan untuk semua murid kelas III yang sebentar lagi akan lulus, sebelum kelulusan diumumkan, dengan acara kemping satu hari satu malam disana. Namun tak disangka, mobil yang dikemudikan oleh Biru yang terdiri dari Aira, Ilalang, Anita, Reina, Lieza dan Cristal mengalami kecelakaan karena kelalaian Biru dalam perjalanan pulang.
Aira, Lieza, Reina dan Ilalang yang dalam perjalanan tertidur, tewas seketika dalam kecelakaan mobil di jalan Trikora itu karena tak sempat menyelamatkan diri. Sementara Cristal dan Biru selamat karena berhasil melompat pada waktu kecelakaan walau menderita luka-luka yang cukup serius. Anita sendiri ada dalam keadaan koma. Anita adalah satu-satunya yang sempat diselamatkan oleh Cristal dan Biru sebelum mobil mereka mulai terbakar dan akhirnya meledak.
Lalu bagaimanakah dengan nasib persahabatan Biru dan Cristal selanjutnya? Mampukah Biru mendapatkan maaf dari Cristal yang menyalahkan Biru atas kejadian na’as yang menimpa persahabatn mereka? Siapa sajakah yang lulus dan masih berartikah kelulusan itu bagi Cristal dan Biru? Bisakah Anita tersadar dari komanya? Bagaimana kelanjutan cinta segitiga yang dulu pernah terjadi antara Cristal-Biru-Anita?
Novel yang juga memuat beberapa puisi dan lagu ciptaan penulis sendiri ini mengambil setting keseluruhan diseputaran kota Tanjungpinang, SMK Negri 1 Tanjungpinang, pantai Trikora dan gunung Bintan serta tempat-tempat lainnya seperti Pelabuhan Sri Bintan Pura, Lapangan Pamedan Achmad Yani dan lainnya. Naskah novel ini telah dikirimkan ke beberapa penerbit, diantaranya ; Gramedia Pustaka Utama-Jakarta, Media Pressindo-Jogjakarta, namun belum dapat diterbitkan dengan berbagai alasan yang membangun. Saat ini novel ini sedang dalam masa pertimbangan di penerbit Gagas Media-Jakarta, dengan limit keputusannya pada pertengahan Januari 2009. Karena itu diharapkan dukungan berupa doa dari semua pihak supaya novel ini bisa diterima di penerbit Gagas Media.
Harapan penulis dari novel ini hanyalah semoga setelah membaca novel ini, kita bisa lebih menghargai sebuah persahabatan, dan lebih mudah memberikan maaf sebelum semuanya terlambat. Dan yang paling utama adalah semoga kota Tanjungpinang bisa lebih dikenal luas melalui novel yang mengambil setting di kota Gurindam-Tanjungpinang ini, Amin.
Bagi yang ingin membaca novel ini secara lengkap dapat mengirimkan email ke penulis di syiffa_azzahra@yahoo.com
Karya : Vera Threescha
Senin, 29 Desember 2008
Israel, kau mau apa?!

Jalur Gaza dialiri darah
Palestina porak poranda
Pesawat-pesawat F-16 berkuasa
310 jiwa meregang nyawa
255 jasad terbujur terluka
Israel…
…kau mau apa?!
Dunia mengecam aksinya
Rudal-rudal yang membabi buta
Misil-misil yang meledak luluh lantak disini sana
Roket-roket Qassam yang melayang-layang tiada jeda
Menjemput jiwa-jiwa yang berguguran seperti dedaunan
Seiring kepulan asap yang membumbung ke angkasa
Mengiringi ruh-ruh yang naik ke langit Gaza
Ya Allah, laknatlah Israel!
Beri dia balasan yang setimpal
Atas dosa pembunuhan massal
Ditanah Palestina yang sakral
Karena tak kan cukup dengan dunia mengutuknya
Israel tetap bergeming saja
Tak perduli Palestina teramat butuh gencatan senjata
Dan kalian yang masih punya hati
Yang belum berubah menjadi batu
Palestina butuh bantuan kita
Meski hanya sebait doa
Percaya pada kekuatan doa
Lekaslah…
Karena semenit waktu kita berdoa
Palestina akan terbantu semoga untuk selamanya
Karya : Vera Threescha