Suatu senja di Sampan café
Dua orang perempuan berusia sekitar pertengahan dua puluhan tengah duduk saling berhadapan sambil menikmati segelas minuman dingin, Lady Pink, yang masing-masing tinggal setengah isinya. Dilihat dari pakaian yang mereka kenakan, bisa ditebak kalau mereka pekerja kantoran yang memanfaatkan after five-nya di café dengan pemandangan laut di hadapannya ini. Sebuah café dengan live musik.
“Jadi, gimana awalnya kamu bisa kenalan dengan cowok, yang kamu bilang, cinta terakhir kamu itu?” tanya Clara sambil memainkan rambut panjangnya yang oleh salon telah dibuat sedemikian rupa, dari lurus menjadi ikal bergelombang. Sangat pas dengan bentuk wajahnya yang kecil dengan dagu yang lancip. Manis, seperti itulah orang-orang kebanyakan menilainya. Dia dan sahabatnya sengaja keluar untuk membahas cowok baru yang ditaksir Sophie, sahabat Clara yang sedang duduk dihadapannya dengan wajah yang sumringah.
“Entah kenapa aku yakin banget kalau dialah orang yang aku cari-cari selama ini. Aku kenal dia di tempat fitness, gak sengaja sih, aku ngejatuhin barbel 4kg di kakinya. He..he..he..!” Sophie nyengir memamerkan deretan giginya yang rapi. Sophie memang sangat cantik, dengan body yang aduhai. Wajar sih, dia rajin fitness dan menjaga ketat apa-apa yang akan masuk ke dalam mulutnya. Rambutnya yang hanya sebatas bahu, bergoyang-goyang pelan saat dia tertawa
“Apaaa?! Gila, sumpah gila banget. Kok bisa sih?” tanya Clara tak habis pikir
“Instruktur aku kan nyuruh aku latihan angkat barbel, ya aku angkatlah. Tapi sambil melamun, tetep! Nah, lagi enak-enak angkat barbel yang sumpah, judulnya aja cuma 4kg, tapi sumpah ternyata kok jadinya berat banget ya. Tiba-tiba tu cowok yang gak tau sejak kapan udah berdiri di sebelah aku, langsung ngajak ngomong aku, entah ngomongin apa, aku nggak nyimak, tanpa ada pendahuluan atau kata pengantar. Aku otomatis kaget dong, ya udah, lepas deh tu barbel yang memang udah dari tadi mau lepas dari tangan aku karena keringat plus berat juga. Dasarnya barbelnya yang kurang ajar, dia jatuhnya di kaki cowok itu, ya selamat dech. Bukan salah aku kan, salah barbelnya”
“Terus?” kejar Clara penasaran
“Ya klise sih, aku minta maaf, trus kenalan, trus sekarang aku naksir dia” kata Sophie datar, tanpa beban
“Secepat itu?!” tanya Clara
“Entah lah, tapi kayaknya sih gitu”
“Udah seberapa dekat kalian?”
“Kayak abg yang lagi Pdkt, lagi kasmaran, cukup dekat. Telphon-telphonan, smsan. ” Sophie terkekeh lagi, Clara ikut tertawa
“Semoga kali ini bisa berjalan sebagaimana mestinya dan berlanjut jadi happy ending story ya, not sad ending story again”
“Sumpah kali ini aku bener-bener pengen serius. Makanya bantuin dong! Aku kok ngerasainnya dia cuma anggap aku temen ya, padahal aku udah kasih perhatian lebih dan sinyal-sinyal kalau aku naksir dia dan kali ini aku bener-bener serius” kata Sophie dengan mimik serius yang jadi keliahatan lucu.
Clara sebagai sahabat baik Sophie, juga hampir semua yang mengenal Sophie tau, bahwa apa yang tertulis di facebook Sophie selama hampir 5 tahun ini benar-benar dilakukannya. Satu hati telah menghancurkan aku, ribuan hati akan aku hancurkan untuk membalasnya. Begitulah Sophie. Pengkhianatan yang pernah diterimanya dijadikan alasan untuk menyakiti semua pria yang jatuh hati padanya. Dengan fisik yang bila di beri nilai, pastilah mendapatkan nilai 8,5, karir yang baik sebagai staff keuangan di perusahaan yang sedang berkembang di kota kecil mereka ini, juga sifatnya yang sangat friendly, siapapun akan dengan sangat mudah jatuh hati pada Sophie. Aku menolak melibatkan hati dalam hal apapun. Itu adalah kalimat lain yang juga tertuang dalam facebooknya yang juga selalu ditepatinya
Walaupun pria-pria yang mendekati Sophie tau akan 2 kalimat sakti yang ada di facebooknya itu selalu ditepati Sophie, tapi selalu ada saja yang bersedia mempertaruhkan hatinya untuk diremuk-remukkan oleh Sophie tanpa perasaan. Bukan salah Sophie juga sih, karena dari awal dia memang sudah menekankan kalau dia menolak melibatkan hati dalam hal apapun. Dan sekarang, kemanapun Sophie pergi, dia bisa menemukan ceceran mantan-mantan kekasihnya dengan mudah.
“Kita udah nggak muda lagi. Apapun pasti aku lakukan untuk membantu, sepanjang yang aku bisa” janji Clara
“Tapi dia bilang dia udah punya tunangan” kata Sophie lagi, ada nada sendu dalam ucapannya
“Baru tunangan kan, orang meried aja bisa cerai, apa lagi baru tunangan. Selama janur kuning belum melambai, masih ada harapan, semangat dong!” kata Clara mencoba menghibur, tepat sedetik sebelum Hpnya menjerit.
Sophie meminum habis Lady Pink-nya, minuman favorit mereka berdua, saat Clara sedang menjelaskan, pada seseorang yang Sophie tak tau siapa, dimana posisinya berada saat ini
“Ternyata Sampan Café ngetop juga ya” kata Clara begitu Hpnya dimatikan
“Kenapa?”
“Temanku minta ketemuan, aku bilang lagi disini, ternyata dia tau tempat ini dan dia bilang mau langsung kesini sekarang, karena dia juga lagi disekitar sini” terang Clara
“Cowok?!” tebak Sophie, Clara hanya mengangguk
“Hmm, jangan bilang kalau itu cowok yang ibu mu jodoh-jodohin sama kamu itu, yang sekarang ini udah jadi tunangan kamu, Cla?!”
“Sayangnya, iya” kata Clara sambil mengangkat bahunya dengan sikap acuh
“Aku masih marah nih karena kamu nggak ngundang aku di acara tunangan kamu kemarin, kamu juga belum pernah ngenalin dia ke aku. Bahkan namanya aja kamu belum kasih tau”
“Maaf ya, kemarin itu cuma acara dua keluarga aja, cuma kecil-kecilan. Lagian sebentar lagikan dia kesini, sekalian aja aku kenalin dia sama kamu”
“Aneh ya, jaman udah semodern ini, masih juga ada orangtua yang menjodoh-jodohkan anaknya” kata Sophie seperti untuk dirinya sendiri
“Aku juga sih yang salah. Aku yang nggak bisa bilang nggak sama ibu ku. Lagian cowok itu anehnya kok bisa sayang banget sama aku, dia sepertinya benar-benar mencintai aku dengan tulus. Padahal kami dijodohkan. Yang lebih anehnya lagi, kalau dia bisa bersikap seperti itu, kenapa aku tidak. Aku memang lemah”
“Ya, kamu terlalu lemah da…. Ya Ampun, Cla…!!!” teriak Sophie dengan suara tertahan, tiba-tiba mengejutkan Clara
“Ada apa?”
“Kamu jangan langsung noleh ke belakang ya. Karena dibelakang kamu sekarang ini, cowok yang aku ceritain tadi, lagi jalan ke arah kita. Ya ampun Cla, kamu liat sendiri deh senyumnya nanti, senyum yang aku bilang bisa lumerin hati aku itu ” kata Sophie nyaris berbisik dengan bibir yang juga nyaris tak bergerak. Matanya menatap kearah belakang Clara meskipun sedang berbicara dengan Clara, senyum tak lepas dari bibir Sophie. Clara tersenyum saat menangkap rona merah jambu tiba-tiba hadir dikedua pipi Sophie. Sahabat mana yang tak ikut bahagia bila sahabatnya sedang berbagia.
“Hai, gak nyangka ketemu kamu disini” kata Sophie saat sosok tadi sudah berada di samping Clara. Clara sama sekali tak menoleh untuk melihat cowok yang ditaksir Sophie itu, karena kan belum dikenalkan. Clara sengaja mengikuti jejak Sophie yang meneguk habis Lady Pink-nya, supaya tak mati gaya selagi Sophie beramah tamah dengan…ah, ternyata Sophie juga belum menyebutkan nama cowok yang ditaksirnya sepanjang dia bercerita tadi. Mereka kan jadi impas sekarang, pikir Clara
“Asyik ya, after five bisa hang out kayak kalian gini” kata cowok itu membuat Clara tersentak, dia merasa mengenali suara itu, dia mencoba untuk menoleh, tapi diurungkannya karena cowok itu berdiri tepat di belakangnya. Sangat kentara kalau Clara menoleh saat ini.
“He-eh! Oh iya, hampir lupa. Kenalin ini Clara, sahabat baik aku” kata Sophie lagi
“He-eh, juga! Kamu becanda ya, Phie?!” kata Nusa, cowok yang sekarang sedang melingkarkan lengannya dengan mesra ke pundak Clara, dengan setengah membungkuk, karena Clara dalam posisi duduk. Clara langsung menoleh dengan cepat. Seketika itu juga wajah Clara memucat
“Kamu kenal Clara…??!” Sophie terlihat sangat bingung. Sophie menatap berganti-gantian antara Clara dan Nusa, menuntut penjelasan, segera!
“Tentu aja aku kenal Clara, Phie. Dia kan tunangan aku yang tercinta” kata Nusa sambil mengecup pelan pipi Clara yang memucat, nyaris akan pingsan. Sementara itu Sophie hanya bisa mematung dengan mata yang kini dipenuhi air mata sambil memandang Clara yang tak tau harus berbuat apa.
Karya Vera Threescha
Minggu, 30 Agustus 2009
Tiga Hati Tiga Cinta
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar